Recent Posts

Magic Dakon, Alternatif Teknik Pembelajaran Bahasa Inggris Kebudayaan Indonesia Dalam Bahasa Inggris

Magic Dakon, Alternatif Teknik Pembelajaran Bahasa Inggris

Hohoho, bertemu kembali, pada kali ini akan menjelaskan mengenai kebudayaan indonesia dalam bahasa inggris Magic Dakon, Alternatif Teknik Pembelajaran Bahasa Inggris simak selengkapnya 

20 Maret 2019   10:25 Diperbarui: 20 Maret 2019   10:32 0 1 Mohon Tunggu...

Oleh: Fitri Hidayah, M. Pd.

Tari Pendet, Batik, Lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, dan Keris ialah misal kebudayaan khalis Indonesia yang diklaim oleh negara asing sebagai kebudayaan khalis milik negara tersebut. Kasus ini bukan kejadian yang aneh, mengingat banyak orang Indonesia, khususnya getah perca pemuda Indonesia sebagai tulang burit anak yang tidak mengenal kebudayaannya. Bagaimana kita bisa membela andaikata mengenalpun tidak?

Oleh akar itu, di rangka mencerdaskan anak beserta membela kelestarian budaya, diperlukan sebentuk penataran yang bakir menyampaikan kedua kejadian tersebut. 

Pemuda dan Pendidikan ialah dobel kejadian terpenting yang boleh jadi tolok ukur kejayaan suatu negara. Pemuda yang boleh memajukan bangsa, bukan hanya pemuda yang memperoleh medali di sebentuk kompetisi bertaraf internasional, melainkan lagi pemuda yang bakir membawa dan memperkenalkan kebudayaan khalis Indonesia di dunia. 

Begitu lagi Pendidikan. Pendidikan layak terus dikembangkan dan dibina di menghadapi pesatnya persaingan alam yang mengedepankan teknologi sebagai dasar berkembangnya bimbingan yang bermutu.  

Sayangnya, seiring berkembangnya jaman, eka persatu kebudayaan berangkat tersingkirkan. Sudah jadi diam-diam umum bahwa kebudayaan tradisional Indonesia pernah berangkat dilupakan sehingga boleh dikatakan bahwa cindur mata masyarakat Indonesia akan kebudayaan tradisional pernah berangkat merosot. 

Hal tersebut terjadi karena banyaknya kebudayaan dalam (asing) yang masuk ke Indonesia sonder adanya filterisasi yang ketat, sehingga sonder disadari kebudayaan asing tersebut menduga merampas akal masyarakat Indonesia untuk bertambah mencintai kebudayaan dalam (asing) itu.

Hal di atas harus mendapat animo khusus dari pemerintah pusat, pejabat daerah, dan tentunya dari kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Untuk itu, harus adanya kesadaran agar masyarakat Indonesia boleh mengangkat balik citra dan murni awak anak Indonesia khalis ke tengah peradapan yang semakin marak dengan adanya modernisasi. 

Seharusnya pernah jadi darma kita, sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang cinta bentala air untuk mengangkat adiluhung seantero kebudayaan yang jadi bukti khas anak kita, yaitu dengan tetap mencintai dan melestarikan kebudayaan tersebut.

Salah eka kaidah yang boleh kita gunakan untuk melestarikan kebudayaan tradisional ialah dengan menyebarkan dan mengarahkan kepada generasi muda, khususnya getah perca pelajar yang nantinya hendak jadi tulang burit negara. 

Cara tersebut boleh ditempuh dengan menyisipkan atraksi tradisional di sebentuk aktivitas berguru mengajar di madrasah ataupun berguru non absah di sebentuk resting time

Jadi, atraksi tradisional tersebut berlaku sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan media penataran ini jadi sarana yang boleh mendukung adanya kesetaraan di memadukan budaya  dan pendidikan.

Contoh dari atraksi tradisional tersebut ialah dakon. Permainan yang acap lagi disebut dakon yang atas jaman lalu amat populer di kalangan orang berumur kita, sehingga acap dijumpai karena merupakan  dolanan atau atraksi anak cucu tradisional ada filosofi adiluhung dan bermanfaat belah perkembangan sekalian pertumbuhan anak cucu ini, pernah bukan lagi jadi atraksi favorit anak cucu jaman sekarang. Banyak anak cucu yang sama amat tidak mengenal atraksi dakon ini. Sungguh ironis, bukan?

 Sebuah kekayaan budaya buatan leluhur kita yang seharusnya amat kita bangun keberadaannya, semakin hari semakin dilupakan. Hal inilah yang bisa dijadikan senjata oleh negara asing untuk merampas kebudayaan Indonesia. Contoh atas afair yang lalu, ada perampasan hak milik budaya Indonesia oleh negara tetangga. 

Setelah itu, barulah berbondong-bondong masyarakat Indonesia berontak. Ini ialah alpa eka misal kesalahan fatal sebagai buah dari kelalaian kita di melestarikan budaya sendiri. Sudah saatnya kita mengemban darma untuk berusaha selalu melestarikan budaya tradisional Indonesia agar tidak punah.

Untuk seorang pemuda yang (dulu pernah) berprofesi sebagai seorang pendidik, media penataran dengan atraksi tradisional dakon yang dikombanisikan dengan magic cards  sehingga menghasilkan atraksi yang disebut magic dakon ini boleh digunakan atas era aktivitas berguru mengajar berlangsung. 

Permainan ini diharapkan boleh jadi media penataran yang interaktif, efektif, menyenangkan, dan ceria karena di di melakukan atraksi ini banyak faedah yang hendak didapat. 

Selain sebagai wahana berguru dan bermain, media ini lagi boleh mengenalkan kepada anggota asuh bahwa atraksi dakon merupakan alpa eka kekayaan budaya Indonesia. Dengan begitu, kelestarian budaya boleh terus mendusin dan bimbingan boleh terus berjalan guna meraih prestasi yang diinginkan.

Relevansi Permainan Magic Dakon dalam Pembelajaran Bahasa Inggris yang Dapat Digunakan Pemuda Indonesia (Khususnya Para Guru SD) untuk Mengajarkan Wawasan Global dan Kearifan Lokal di Satu Waktu

Magic dakon ialah gabungan dari 2 (dua) kata, yaitu, dakon dan magic cards. Dakon atau acap lagi disebut dakon, membutuhkan dobel alat, yaitu papan dakon yang ada 16 lubang, masing-masing 7 ceruk di dada dan buritan beserta 1 ceruk di pojok daksina dan kiri (atau bisa lagi digambar seorang diri atas daluang karton) dan definit sahaja biji sawo (atau batu-batu kecil yang menduga dicuci bersih dan diwarnai) untuk memadatkan lubang-lubang tersebut. Sedangkan magic cards yang dimaksud di sini ialah sekumpulan kartu (dengan bangun yang disesuaikan) yang ampuh 1 (satu) bicara atas identitas suatu benda di Bahasa Inggris. 

Media penataran atraksi magic dakon dapat digunakan untuk mengenal angka, bermacam-macam dasar, dan identitas suatu benda di Bahasa Inggris oleh anak didik SD. Angka dan bermacam-macam dasar di atraksi magic dakon ini boleh mengahlikan daya speaking, pronunciation, vocabulary, dan listening mereka.  

Selain itu, lapisan bicara di magic cards lagi bisa mengahlikan grammar dasar membayangkan dan belah tim yang bertekuk lutut lagi bisa membabarkan translation skill mereka, karena tim yang bertekuk lutut diharuskan untuk membuat corak Indonesia ke di Bahasa Inggris yang alhasil dinyanyikan di dada kelas sebagai punishment (hukuman). Hal ini lagi bisa mengahlikan mental membayangkan definit saja. 

Dengan begini bisa dikatakan bahwa, 1 (satu) gawai bisa digunakan untuk mengahlikan delapan kompetensi sekaligus. Vocabulary, Pronunciation, Grammar, Translation, Speaking, Listening, Reading, dan Writing.

Vocabulary maksudnya, dengan memakai media atraksi magic dakon dalam penataran Bahasa Inggris, boleh menambah glosari getah perca siswa, karena dengan amat bermain saja, getah perca anak didik pasti hendak mempunyai 35 (tiga persepuluhan desimal lima) glosari di Bahasa Inggris, yang meliputi, 20 (dua puluh) glosari bilangan di Bahasa Inggris, 10 (sepuluh) glosari bermacam-macam di Bahasa Inggris dan 5 (lima) glosari sifat yang lagi merupakan identitas suatu benda di Bahasa Inggris.

Pronunciation dan Speaking maksudnya, saat melakukan atraksi dakon, aktor yang mendapat aplusan memainkannya, layak membesuk terlebih berlalu barang apa sahaja warna-warna isi dakon itu dan menyebutkan dengan keras barang apa sahaja warnanya dan berapa jumlahnya, misalnya, two red colours, one black colour, and four pink colours, kemudian saat memasukkan isi dakon ke masing-masing lubang, aktor lagi layak menghitungnya dengan keras di Bahasa Inggris. Ini berarti saat mengangkat dakon tersebut getah perca aktor lagi layak mengawasi pronunciation-nya agar bisa melakukan speaking dengan benar.

Listening maksudnya, saat tim oponen sedang mengangkat dakon dengan melafazkan bermacam-macam dan besaran beserta bilangan di Bahasa Inggris, tim yang tidak bermain layak mendengarkan baik-baik, apakah pronunciation aktor itu akurat atau salah, bila pronunciationnya salah, membayangkan bisa mengangkat lengan dan melafazkan bahwa pronunciation tim oponen alpa sekalian melafazkan dengan keras pronunciation yang benar, aci-aci one untuk eka seharusnya dibaca /wan/, tapi oleh tim oponen dibaca /on/. Bila argumen yang dikemukakan dan isbat yang dilakukan itu tepat, maka instruktur yang di kejadian ini berperan sebagai judge (juri) bisa memikat dekrit yang benar untuk memasrahkan kesempatan bermain kepada tim yang menduga melakukan isbat tersebut.

Writing maksudnya, saat isi dakon pernah berakhir aktor yang tidak bermain (masih di eka tim) layak memikat 1 (satu) magic card yang tidak boleh dilihat isinya dan langsung menyerahkannya kepada instruktur sebagai fasilitator. Guru hendak membunyikan bicara di Bahasa Inggris yang ada di magic card tersebut semasa 2 (dua) kali dan aktor tersebut layak menuliskan bicara tersebut dengan akurat atas secabik kertas.

Grammar maksudnya, sehabis semua magic cards terbuka, getah perca aktor di 1 (satu) tim layak bekerja sama untuk menentukan lapisan kata-kata yang akurat di magic cards tersebut, sehingga boleh berkreasi sebentuk kalimat dengan lapisan yang akurat lagi tentunya.

Reading maksudnya, sehabis atraksi selesai, dan seantero magic cards dari masing-masing kelompok terbuka, getah perca aktor layak bekerja sama untuk mencari sebentuk benda dengan identitas bagai yang pernah kedapatan di magic cards, kemudian getah perca aktor tersebut layak merangkai katanya yang sekalian mengahlikan grammar membayangkan untuk kemudian membunyikan hubungan bicara tersebut dengan keras.

Translation maksudnya, belah tim yang bertekuk lutut layak berusaha membuat corak Bahasa Indonesia ke di Bahasa Inggris yang alhasil dinyanyikan di dada kelas  agar titik yang membayangkan kumpulkan tidak tertinggal jauh dari si pemenang.

Pada era penataran berlangsung diharapkan getah perca anak didik boleh mendapatkan seorang diri jenis benda yang dimaksudkan di magic cards. Oleh karena itu untuk mendukung media penataran dengan memakai magic dakon ini, sebenarnya instruktur memakai metode penataran discovery atas penataran Bahasa Inggris ini. 

Dengan menggunaan metode ini, diharapkan anak didik hendak tertarik dan bakir untuk memahami materi ajar Bahasa Inggris secara mandiri.

Selain itu, aplikasi metode penataran cooperative learning lagi boleh dimanfaatkan di cara penataran Bahasa Inggris SD dengan memakai media penataran atraksi magic dakon ini. 

Hal ini dilakukan agar tercipta sebentuk kerja sama antar anggota yang eka dengan yang asing di 1 (satu) tim melalui aktivitas penataran ini. Dalam melakukan penataran Bahasa Inggris melalui media atraksi magic dakon ini dibutuhkan minimum 4 (empat) orang untuk boleh melakukan atraksi ini.

Misalkan saja, eka tim terdiri dari 2 (ua) orang, masing-masing aktor di tim mengangkat dakon ini secara bergantian, yang tidak sedang mengangkat dakon mempunyai darma untuk memikat magic card dan memberikannya kepada guru, beserta mencatatnya di secabik kertas, begitu lagi sebaliknya, saat tiba saatnya bermain, aktor yang tadi menduga jadi carik magic cards, bergilir-gilir mengangkat dakon. 

Hal ini dilakukan agar setiap aktor boleh menjumpai 2 (dua) peran, yaitu sebagai aktor dakon dan carik magic cards. Tentu sahaja 1 (satu) dakon layak dimainkan oleh 2 (dua) tim. 

Jadi, dengan bicara asing 1 (satu) dakon bisa dimainkan oleh 4 (empat) anggota didik. Pada era penataran berlangsung, instruktur bertindak sebagai penyedia yang membunyikan magic cards, sekalian bertindak sebagai penengah (judge)  yang menentukan siapa siapa|sembarang orang} tim yang berjaya dan berhak memperoleh titik dari guru. 

Yang bertekuk lutut definit sahaja ada punishment atau hukumannya, karena ini ialah bidang Bahasa Inggris, maka belah tim yang kalah, layak menyanyikan corak di Bahasa Inggris, corak itu merupakan gubahan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris (misalnya, corak satu, dua, tiga), bila tim yang bertekuk lutut bisa menyanyikan atau membuat corak tersebut dengan benar, maka tim tersebut lagi berhak memperoleh titik dari guru. 

Intinya, sebenarnya tidak ada tim yang bertekuk lutut atau menang. Karena semua tim, ayu yang bertekuk lutut ataupun yang menang, tetap memperoleh titik aksesori dari guru, akar ia mau berusaha.

Dengan regulasi sistem penataran bagai ini, diharapkan magic dakon boleh jadi media penataran yang boleh memajukan menambah animo dan motivasi berguru anggota didik. 

Dengan demikian, anggota asuh boleh menguasai materi yang diajarkan dengan baik. Hal ini bisa mengakomodasi anggota asuh berguru dengan pengalamannya seorang diri dan membuatnya berkreativitas bertemu dengan daya masing-masing anggota didik, sehingga atas akhirnya, terciptalah suasana berguru Bahasa Inggris yang menyenangkan. 

Implementasi Permainan Magic Dakon dalam Pembelajaran Bahasa Inggris yang Dapat Digunakan Pemuda Indonesia (Khususnya Para Guru SD) untuk Mengajarkan Wawasan Global dan Kearifan Lokal di Satu Waktu

Sejumlah atraksi tradisional yang bisa jadi media penataran Bahasa Inggris antara lain, dakon, petak umpet, gobak sodor, sudamanda, dan tentunya sedang banyak lagi. 

Penggunaan atraksi tradisional tersebut ada bukti khas distingtif yang berkaitan erat dengan denyut baik dan budaya masyarakat. Tak independen dari bidang yang nyata didapatkan getah perca anggota asuh di madrasah di beraneka macam tingkatan, berangkat dari TK, SD, SMP, cukup SMA.

Media penataran yang boleh digunakan di penataran Bahasa Inggris di ambang SD alpa satunya ialah atraksi tradisional dakon yang dikombinasi dengan magic cards. Sehingga atas alhasil atraksi tersebut diberi cap magic dakon.

Cara mengangkat magic dakon amat mudah. Awalnya, definit sahaja kita layak mempunyai dakon. Meskipun kualitas dakon itu banyak ( hanya sekitar Rp. 5000,00-Rp. 7000,00), melainkan sekarang ini mencari dakon bukanlah kejadian yang mudah. Dakon pernah amat jarang terdapat di toko-toko mainan biasa, bahkan di supermarket atau mall-mall besar. 

Dakon hendak amat encer terdapat di pasar tradisional, Johar Semarang, misalnya, terutama di bakul yang khusus memasarkan barang-barang dari plastik. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya, magic dakon tetap bisa dimainkan dengan konsep imajinatif kita sendiri. 

Papan dakon bisa kita buat seorang diri dengan menggambarkannya di atas daluang karton, caranya, goresan sahaja lingkaran dengan garis tengah kira-kira 7 (tujuh) cm sebanyak 16 (enam belas) buah, duga sahaja itu ialah 16 (enam belas) ceruk yang ada di kediaman dakon asli, masing-masing 7 (tujuh) ceruk di dada dan di belakang, beserta 1 (satu) ceruk di pojok daksina dan kiri. 

Untuk biji sawonya, kita bisa memakai batu-batu kecil di sekitar kita atau batu akuarium yang berwarna-warni. Fungsi dari biji sawo atau batu tersebut definit sahaja untuk memperkenalkan macam-macam bilangan dan bermacam-macam di Bahasa Inggris. 

Untuk standar anak didik SD, membayangkan layak memahfuzkan bilangan 1 (one) cukup 20 (twenty) untuk boleh melakukan atraksi ini. Tentu sahaja kita layak membasuh bersih lalu setelah dimainkan. Setelah itu, alokasikan bermacam-macam atas 98 (sembilan persepuluhan desimal delapan) batu yang menduga kita kumpulkan itu. 

dokpri

dokpri

Warnanya bisa barang apa saja, yang bena bermacam-macam itu jelas dan bisa dipahami oleh getah perca siswa. Karena untuk mewarnai batu-batu itu diperlukan waktu minimum eka hari agar bermacam-macam di batu tersebut bisa meresap sempurna, kita bisa menyiasatinya lagi dengan memasrahkan batu-batu tersebut daluang yang bertuliskan bermacam-macam di Bahasa Indonesia (misal, hijau, biru, kuning, dan sebagainya) arkian daluang tersebut direkatkan dengan memakai selotip transparan, sehingga huruf bermacam-macam tersebut boleh terbaca jelas. 

Fungsi dari warna-warna itu ialah untuk memperkenalkan kepada anak didik SD akan kaum glosari (vocabulary) bermacam-macam di Bahasa Inggris, misalnya, red untuk merah, white untuk putih, pink untuk jambon, blue untuk biru, green untuk hijau, purple untuk ungu, yellow untuk kuning, orange untuk oranye, brown untuk coklat, dan black untuk hitam. Magic cards lagi bisa kita buat sendiri. 

Caranya, ambil daluang kardus atau asturo, biji dengan barometer 7x10 cm sebanyak 10 (sepuluh) buah. Kalau daluang asturo dengan barometer 7x10 cm dianggap pemborosan, kita lagi bisa mengabaikan biaya yang layak dikeluarkan dengan melahirkan magic cards itu dari daluang biasa yang kemudian kita ganda kecil-kecil atau kita gulung bagai atas kocokan arisan (seperti yang datang atas goresan 7). 

Dokpri

Dokpri

Masing-masing magic card hendak ditulisi 1 (satu) bicara semacam klu atau advis atas identitas dari suatu benda di sekitar kelas, advis tersebut diambil aktor yang kemudian isinya dibacakan oleh guru. Satu bicara yang menduga dibaca oleh instruktur semasa 2 (dua) kali tersebut, ditulis oleh aktor yang bertugas untuk memikat magic card

Sebelum memainkannya, anak didik layak pernah hafal 10 (sepuluh) bilangan awal di Bahasa Inggris dan 20 (dua puluh) bermacam-macam dasar di Bahasa Inggris pula. Setelah itu, belah kelompok. 1 (satu) kelompok terdiri dari 2 (dua) anak, oke 1 (satu) dakon bisa dimainkan oleh 2 (dua) kelompok atau 4 (empat) anak. Atur kedudukan meja, sehingga berkreasi lingkaran, instruktur berada di tengah-tengah lingkaran sebagai fasilitator sekalian judge (juri) yang menentukan siapa siapa|sembarang orang} tim yang berjaya dan yang kalah. 

Bagi ahli kelompok yang sedang mengangkat magic dakon, layak membesuk lalu barang apa sahaja bermacam-macam yang ada di ceruk yang hendak diambil, kemudian ambil biji dakon arkian sebutkan dengan keras bermacam-macam dan jumlahnya, misal, one pink colour, two red colours, three yellow colours, and two black colours, disinilah anak cucu bisa mempelajari speaking, vocabulary, dan pronunciation sekaligus, kelompok oponen layak mengawasi dan mendengarkan dengan awas ucapan sang pemain, bila ada kesalahan, ayu di pengucapan atau di jumlah, aktor hendak berakhir dan kelompok oponen yang hendak mengangkat dakon tersebut. Inilah yang dimaksud listening. Lalu, sang aktor lagi layak melafazkan dengan keras bilangan dasar di Bahasa Inggris, era memasukkan biji-biji bermacam-macam itu ke masing-masing ceruk (speaking dan pronunciation). 

dokpri

dokpri

Setelah itu, baru aktor yang tidak bermain di tim tersebut layak memikat 1 (satu) magic card dan menyerahkannya atas guru, selanjutnya, instruktur hendak bertindak sebagai fasilitator, yaitu membunyikan 1 (satu) bicara yang ada di magic card tersebut semasa 2 (dua) kali, darma aktor itu ialah mencatat bicara tersebut di secabik kertas, sehingga anak didik lagi bisa mempelajari writing. Setelah semua magic cards terbuka dan semua kata-kata yang ada di magic cards itu dicatat. 

Permainan bisa dihentikan kendatipun sebenarnya atraksi dakon yang sebenarnya belum usai, tapi bila atraksi  tersebut boleh dilanjutkan untuk memafhumi siapa siapa|sembarang orang} pemenang di pemenang di atraksi dakon itu, kendatipun tidak ada akumulasi poin. 

Selanjutnya, getah perca aktor layak membangun kata-kata yang menduga ditulis di secabik daluang itu dan membaca lapisan bicara tersebut dengan keras, arkian menebak dan menunjuk benda yang ciri-cirinya bertemu dengan kalimat yang menduga disusun itu (grammar dan reading). 

Bagi tim yang bisa mengumpulkan titik paling adiluhung yang didapat dengan melangkaukan besaran titik dari 2 (dua) aktor di 1 (satu) tim, tim tersebutlah yang jadi pemenang, belah yang bertekuk lutut ada hukumannya (punishment), yaitu membuat corak Bahasa Indonesia ke di Bahasa Inggris dan menyanyikannya di dada kelas. 

Tentu sahaja ini lagi bisa mengasah translation skill sekalian mental mereka. Jadi, sebenarnya semua tim ialah pemenang, instruktur bisa memberi titik belah semua anak, 2 (dua) anak cucu di 1 (satu) tim belum definit mempunyai titik yang sama. Yang terbanyak memperoleh titik bisa diberi pengakuan di bangun hadiah atau nilai. 

Permainan yang encer dan banyak beserta membawa berat hendak faedah introduksi Bahasa Inggris dan budaya Indonesia. Bagi anggota asuh yang sebelumnya tidak memafhumi atraksi tradisional dakon, maka aktivitas penataran ini boleh dijadikan sebagai wahana introduksi budaya.

Hasil wawancara dengan seorang instruktur Bahasa Inggris SD Negeri 01 Weleri yang menyatakan bahwa media penataran Bahasa Inggris dengan atraksi magic dakon  ini boleh menarik animo anggota asuh untuk berguru Bahasa Inggris bertambah dalam. 

Selain itu, penataran dengan memakai media ini sekalian boleh berguru lintas materi untuk kelas selanjutnya. Jadi, dari 1 (satu) gawai didapatkankan kaum coret-coretan yang bisa dipelajari. 

Begitu lagi dengan alpa seorang anak didik SD yang melafazkan bahwa berguru Bahasa Inggris dengan memakai gawai atraksi dan dipraktekkan secara langsung itu bertambah encer dipahami dan dimengerti, bahkan kita bekerja tidak secara individual. Jadi, getah perca pemuda, khususnya getah perca instruktur anak muda Indonesia, boleh memakai media penataran ini untuk mengarahkan paham global dan kebajikan lokal sekalian di eka waktu.

Prediksi Kelemahan dan Langkah Antisipasi di Kaitannya dengan Proses Pembelajaran Bahasa Inggris

Kegiatan penataran dengan memakai media bagai gawai atraksi magic dakon ini harus memperoleh animo di kejadian pemanfaatannya. Selain keuntungan di penerapannya, di bidang asing lagi didapat kerugian yang dianggap sebagai kedaifan aplikasi media bimbingan tersebut. 

Penggunaan atraksi magic dakon memang tidak terlampau encer belah yang belum sempat mengenalnya, tapi belah yang pernah sempat memainkannya, atraksi ini hendak terasa amat mudah.

Meski kualitas dakon itu murah, tapi dakon bukanlah bagasi yang encer ditemukan, terutama di kota-kota besar, dakon pernah amat jarang terdapat di toko-toko mainan biasa. 

Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya, dakon tetap bisa dimainkan dengan konsep imajinatif kita sendiri. Papan dakon bisa kita buat seorang diri di atas daluang karton, caranya, goresan sahaja lingkaran dengan garis tengah kira-kira 7 (tujuh) cm sebanyak 16 (enam belas) buah, duga sahaja itu ialah 16 (enam belas) ceruk yang ada di kediaman dakon asli, masing-masing 7 (tujuh) ceruk di dada dan di belakang, beserta 1 (satu) ceruk di pojok daksina dan kiri. 

Untuk biji sawonya, kita bisa memakai batu-batu kecil di sekitar kita atau batu akuarium yang berwarna-warni. Tentu saja, kita layak membasuh bersih lalu setelah dimainkan. Setelah itu, alokasikan bermacam-macam atas 98 (sembilan persepuluhan desimal delapan) batu yang menduga kita kumpulkan itu. 

Warnanya bisa barang apa saja, yang bena bermacam-macam itu jelas dan bisa dipahami oleh getah perca anak didik SD. Karena untuk mewarnai batu-batu itu diperlukan waktu minimum eka hari agar bermacam-macam di batu tersebut bisa meresap sempurna, kita bisa menyiasatinya lagi dengan memasrahkan batu-batu tersebut daluang yang bertuliskan bermacam-macam di Bahasa Indonesia (misal, hijau, biru, kuning, dan sebagainya) arkian daluang tersebut direkatkan dengan memakai selotip transparan, sehingga huruf bermacam-macam tersebut boleh terbaca jelas. Magic cards lagi bisa kita buat sendiri. 

Caranya, ambil daluang kardus atau asturo, biji dengan barometer 7x10 cm sebanyak 10 (sepuluh) buah Kalau daluang asturo dengan barometer 7x10 cm dianggap pemborosan, kita lagi bisa mengabaikan biaya yang layak dikeluarkan dengan melahirkan magic cards itu dari daluang biasa dengan barometer yang bisa disesuaikan dengan lebar kertasnya, yang kemudian kita ganda kecil-kecil atau kita gulung bagai atas kocokan arisan (seperti yang datang atas goresan 7). 

Selanjutnya, masing-masing bagian ditulisi 1 (satu) bicara sifat, semacam klu atau advis atas identitas dari suatu benda di sekitar kelas. 5 (lima) magic cards ampuh 5 (lima) advis yang mengarah atas 1 (satu) benda. Karena ada 2 (dua) tim, maka layak dibuat petunjuk-petunjuk untuk 2 (dua) benda yang berbeda.

Waktu yang dibutuhkan di memakai atraksi magic dakon sebagai media penataran Bahasa Inggris untuk anak didik SD ini lagi tidak kecil karena coret-coretan atraksi magic dakon ini kecil berlainan dari atraksi dakon biasa, oke diperlukan banyak waktu untuk menerangkannya, bahkan memberi misal betapa dengan cara apa kaidah memainkannya, dan memberi kesempatan kepada siapa siapa|sembarang orang} sahaja yang kurang jelas dengan aturan bekerja magic dakon ini. 

Selain itu, adanya coret-coretan penataran yang memakai metode discovery learning dan cooperative learning di atraksi ini lagi membutuhkan waktu yang tidak kecil (sekitar 1 (satu) jam-an). Hal ini boleh diatasi dengan adanya akumulasi jam di dalam jam bidang atas era penataran berlangsung.

Sedangkan di kejadian ketidaktahuan siswa, aktivitas ini boleh dijadikan sebagai sebentuk bimbingan yang mengenalkan kebudayaan tradisional kepada anak cucu asuh yang belum tahu, sehingga atraksi tradisional dakon yang dipadukan dengan magic cards ini boleh dijadikan sebentuk media penataran mendasar budaya. Dengan memakai atraksi magic dakon sebagai media di cara berguru mengajar Bahasa Inggris boleh jadi wahana pelestarian kebudayaan tradisional. Ini jadi masukan absolut belah instruktur sebagai dosen bahwa ternyata di penataran Bahasa Inggris tidak harus konsep angkuh dan biaya mahal. Selain itu, instruktur lagi boleh memajukan menambah motivasi berguru anak didik dengan memakai atraksi yang mendasar budaya ini.

Simpulan

Berdasarkan hasil amatan buku dan pembahasan boleh ditarik buhulan sebagai berikut :

a) Permainan magic dakon boleh jadi media penataran Bahasa Inggris untuk anak didik SD mendasar budaya. Selain itu, bila ditinjau dari segi Bahasa Inggris boleh terdapat kaum coret-coretan Bahasa Inggris di mengangkat magic dakon ini, yaitu, vocabulary, pronunciation, speaking, listening,  writing,  grammar, reading, dan , translation.

b) Aplikasi materi di memakai atraksi magic dakon yang boleh digunakan pemuda (khususnya getah perca instruktur muda) untuk mengarahkan paham global dan kebajikan lokal sekalian di eka waktu, yaitu dengan menerapkan metode belajar Discovery dan Cooperative Learning atas era cara penataran berlangsung.

c) Prediksi kedaifan atraksi magic dakon sebagai media penataran Bahasa Inggris untuk anak didik SD ini yaitu atas sedang sulitnya mencari dakon di kota-kota besar, untuk menerangkan dan mengangkat magic dakon diperlukan waktu yang tidak sedikit, dan sedang banyaknya anak didik yang belum mengerti betapa dengan cara apa mengangkat dakon. Antisipasinya boleh diatasi dengan konsep imajinatif guru, kecuali itu magic dakon lagi boleh dijadikan sebagai wahana introduksi budaya belah anggota didik.

Rekomendasi

Berdasarkan pembahasan dan buhulan di atas, maka saran yang boleh disampaikan antara asing :

a) Pemanfaatan media penataran Bahasa Inggris boleh dikembangkan dengan memakai atraksi tradisional lainnya, kecuali dakon, di rangka mencerdaskan denyut bangsa.

 b) Kepada seantero masyarakat Indonesia agar bertambah mengenal dan turut beserta melestarikan kebudayaan Indonesia sebagai bangun cinta kita atas buatan leluhur bangsa.

c) Hendaknya getah perca pemuda (semua profesi, khusunya yang berprofesi sebagai instruktur anak muda Indonesia) selalu imajinatif di menjalankan tugasnya sehingga boleh memajukan antusiasme berguru anggota didik.

d) Apabila menduga benar keefektifannya, maka harus diadakan sosialisasi sekalian perubahan pengembangannya.

Referensi

  • Hartoyo. 2006. Supervisi Pendidikan Mewujudkan Sekolah Efektif di Kerangka Manajemen Berbasis Sekolah. Semarang : Pelita Insani.
  • Hassan, Fuad. 2005. Ensiklopedia Umum untuk Pelajar. Jakarta : Ichtiar Baru Van Houve.
  • Hidayah, Fitri. 2007. From Coast to Technology sebagai Aplikasi BTE (Basic Technology Education) di Meningkatkan Kemampuan IPTEK Siswa SMP Menuju Era Globalisasi. Semarang : Tidak Dipublikasikan.
  • Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset.
  • Nuvitalia, Duwi. 2008. Permainan Tradisional Egrang sebagai Media Pembelajaran IPA-Fisika. Semarang : Tidak Dipublikasikan.
  • Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl. 1997. Accelerated Learning, Cara Belajar Cepat Abad XXI. Bandung : Nuansa.
  • Sadman, Arif S. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
  • Tim Redaksi Fokusmedia. 2005. Himpunan Peraturan Perundangan Standar Nasional Pendidikan. Bandung : Fokusmedia.
  • Tim Redaksi Cipta Adi Pustaka. 1991. Ensiklopedia Nasional. Jakarta : Cipta Adi Pustaka.
  • Yulianti, Fitri. 2005. Analisis Deskriptif atas Penggunaan Berbagai Media Pengajaran Bahasa Inggris untuk Anak-Anak TK. Semarang : Tidak Dipublikasikan.
  • -------. 2006. Peningkatan Keterampilan Psikomotorik Berbahasa Inggris atas Anak Usia SD Melalui Media bermain Play Ground. Semarang : Tidak Dipublikasikan.
  • www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-article/congklak, diakses tanggal 20 Juni 2013

begitulah pembahasan perihal Magic Dakon, Alternatif Teknik Pembelajaran Bahasa Inggris semoga info ini menambah wawasan salam

tulisan ini diposting pada kategori kebudayaan indonesia dalam bahasa inggris, artikel tentang kebudayaan indonesia dalam bahasa inggris, contoh budaya indonesia dalam bahasa inggris, , tanggal 17-09-2019, di kutip dari https://www.kompasiana.com/fitrihidayahhasan/5c91a4b00b531c4fb42e5ae2/permainan-magic-dakon-sebagai-alternatif-teknik-pembelajaran-bahasa-inggris-dari-ex-guru-muda-indonesia-untuk-mengajarkan-wawasan-global-dan-kearifan-lokal-sekaligus-dalam-satu-waktu?page=all

Disqus Comments

Popular Post